Rumah Bertuah

Jangan salahkan judul kalau maksudnya adalah tidak untuk syirik-syirikan, tapi untuk memaknainya secara denotatif, majazi, kiasan. Rumah bertuah yang aku maksudkan adalah pemandangan yakinistik atas sedang dibangunnya sebuah rumah yang tanpa kurencanakan. Tidak kurencanakan karena rencana itu justru datangnya dari salah seorang saudara. Dia berinisiatif membangun rumah di sepetak kampung yang sudah lunas terbeli. Bertuah menurut pandangan yakinistik artinya rumah itu memuat doa dalam wujud fisik dan tindakan. Doa seorang saudara yang memvisualkan rumah untuk adiknya dalam bentuk terbaik yang bisa dia bayangkan. Amin. Amin. Amin.

Kalau saya ditunggu untuk membuat rumah, karena belum terpikirkan, atau karena belenggu pesimisme masa lalu, tak yakin saya bisa memvisualkan rumah semegah, segede, dan sebagus itu. Apalagi sekarang posisiku adalah dalam status belajar, bukan bekerja. Aku seratus persen pelajar. Ataukah ini berkah dari Allah yang tidak henti-hentinya memantau doa-doa, kilatan-kilatan kebutuhan hambanya? Bisa jadi pernah terbersit di hati kecil, alangkah senangnya anak-anak dan istri kalau dia punya rumah sebagus ini dan itu. Lalu Allah merespons dengan memperjalankan seorang saudara untuk bertindak senekat itu?

Sudah sebulan lebih rumah bertuah itu dibangun dengan dana mengalir. Mudah-mudahan doa dalam bentuk fisik bakal rumah yang megah itu adalah doa yang memberi semangat, memotivasi tindakan fisik nyata untuk menghasilkan karya bermanfaat bagi umat manusia di dunia ini. Momentum hasilnya semoga menggerus kekerdilan cita-cita, kemalasan berkarya, kesia-siaan tindakan, dan sebaliknya bisa memotivasi lebih nyata dan visual bahwa perjuangan harus dilaksanakan, tanpa alasan kerdil-kerdil ini dan itu untuk beristirahat sejenak, perjuangan harus jalan, jalan, dan jalan terus selama jantung ini masih berdetak. Istirahatkan dirimu dalam mengalirnya tindakan dan perjuangan. Istirahatlah sambil berkreasi, berpikir, dan bekerja.

Rumah bertuah, dia menjadi wasilah (maaf ya kaum anti wasilah, saya sulit mencari pilihan kata yang lebih tepat) untuk kita dalam menunaikan tugas dan amanah dengan sebaik-baiknya dan dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya.

Posted on May 8, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Tapi tahukah Anda, bahwa di masa lalu aku pernah berangan-angan untuk punya ruang kerja di wuwungan, di pyan rumah? Dan ternyata angan-angan itu didengar oleh Tuhan, yang insya Allah, sebentar lagi akan mewujud.

    So, berhati-hatilan dalam berangan-angan, karena angan-angan bisa jadi merupakan doa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: