Keselarasan, keserasian, keseimbangan, kestabilan

Tiba-tiba saya terdorong untuk memasukkan sebuah tema tentang keselarasan, keserasian, keseimbangan, dan kestabilan. Tema ini demikian pentingnya sehingga kalau nanti sudah tidak ada selera untuk mengeblog takutnya nanti hilang dari ingatan. Konsep-konsep itu mengikat potensi untuk membangkitkan kerja optimalku dalam meraih cita-cita hakiki, yakni Ridho Ilahi Robbi.

Cita-cita ini sebenarnya merupakan idaman setiap orang. Tidak peduli mereka orang alim maupun orang bejat. Hanya saja di mata orang alim, cita-cita tersebut demikian gamblangnya nampak di depan mata mereka. Sementara itu di mata orang bejat, cita-cita itu sedemikian kabur dan gelapnya karena tertumpuki oleh jerami-jerami napsu kebejatannya.

Dalam hal cita-cita, sudah bukan rahasia lagi kalau setiap orang yang ‘waras’ itu punya cita-cita. Seorang pemalas sekalipun, dia punya cita-cita untuk bermalas-malas sepanjang masa selama mungkin. Pun orang rajin, dia bercita-cita untuk menjadi seorang pengrajin selama mungkin. Ampuhnya, penetapan cita-cita ini bebas. Tidak ada paksaan untuk bercita-cita, termasuk tidak ada paksaan untuk bercita-cita untuk tidak mempunyai cita-cita apa-pun, alias untuk berputus asa.

Spesifik buatku, aku sudah menetapkan diri dan sering membawa diri ini untuk meluncur ke arah Ilahi Robbi, berharap amat akan Ridho-Nya. Set up ku demikian ini. Aku sudah berniat menyetel diriku ini secara demikian. Hukum keselarasan di sini berkata. Kalau terjadi perbedaan, diskrepansi, antara cita-cita dengan realisasi dalam tataran perbuatan, ini namanya aku seorang MUNAFIK.  Jadi teringat aku dengan ulangan agama tingkat SD, apa SMP, apa SMA ya. Pertanyaannya begini: apakah tanda-tanda seorang munafik? Aku jawab waktu itu ada tiga tanda, yakni 1) kalau berjanji tidak menepati 2) kalau berbicara bohong 3) kalau dipercaya berkhianat.  Benar begini apa enggak ya, kok aku jadi lupa. Jadi mulut dan perbuatannya sudah tidak bisa dipegang lagi. Tidak ada keselarasan dalam diri orang munafik. Ini berakibat tidak terjadi keserasian dalam hidupnya. Matanya memancarkan aura kepalsuan, senyumnya mentah, pahit, getir, tidak sedap dipandang. Tatapan matanya penuh kecurigaan. Semuanya serba tidak serasi baik di mata, di telinga, maupun di hati.

Kalau di dalam sebuah sistem diri sudah tidak lagi saling akur, yang terjadi adalah tidak ada keseimbangan. Jalan menjadi acak terhuyung ke sana dan kemari, bagaikan jalannya seorang pemabok berat. Akibatnya tidak stabil. Ada lubang kecil mudah terperosok. Ada batu kecil mudah tersandung dan jatuh. Jalan terseok-seok tidak bakalan sampai. Apalagi kalau dihubungkan dengan cita-cita. Pemabok akan kehilangan kesadaran dan lupa akan cita-cita, kalau dia tadinya mengaku punya cita-cita. Apalagi kalau dia tadinya mengaku bercita-cita untuk tidak punya cita-cita. Jadi lebih ruwet lagi.

Halnya dengan aku yang sudah menetapkan diri untuk bercita-cita seperti di atas, aku mesti tetap waspada. Karena dikatakan, setan menggoda anak adam mulai dari anak adam lahir sampai masuk ke liang kubur. Aksioma ini berlaku umum dan universal. Berlaku tidak hanya pada seorang pemabok, tapi juga pada orang yang bercita-cita, termasuk berlaku kepada aku. Jatuh bangun gara-gara setan adalah tidak bisa dihindari.

Hal nya aku, aku akan senantiasa memohon kepadaNya untuk dilindungi dari godaan setan yang sejak dulu sudah terkutuk sampai besok pun terkutuk.  Sparing partner kasat mata ini mudah-mudahan senantiasa menyadarkan aku bahwa jalan ini mesti dilalui dengan usaha, tidak bisa dengan ngantuk-ngantuk, tidak bisa dengan leha-leha, tidak bisa dengan hanyut-hanyutan, apalagi dengan mengikuti bujukan-bujukan setan.

Kalau sudah masuk dalam jeratan setan, sudahlah, semuanya akan berat. Jalan akan terseot-seot seperi orang mabok tadi. Blunder mudah terjadi. Untuk itu mekanisme kembali, repentansi, diajarkan Tuhan bagi mereka yang temporary terjerat dalam perangkap setan. Setelah lepas dari jeratan setan, mudah-mudahan episode gelap itu bisa membekas jadi pelajaran berharga dalam mengatasi gangguan setan dalam etape-etape kehidupan berikutnya.

Keseimbangan dan kestabilan langkah hanya bisa dilalui dengan menjadi seorang yang konsisten dan menjauhkan diri dari kemunafikan. Jalani jalan sesuai dengan rambu-rambu yang sudah baku. Jauhkan dari keluh kesah, resah, apa lagi dari gelisah, karena janji Tuhan adalah nyata. Asalkan engkau menyabarkan diri untuk menjadi pasukan Tuhan, untuk menjadi ahli Tuhan, pertolongannya adalah nyata. Kebahagiaan turun seketika itu juga. Demikian juga halnya dengan kedamaian, ketenangan, ketenteraman, kenyamanan, keserasian, keselarasan, keseimbangan, dan kestabilan.

Posted on April 28, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: