Sistem Penjagaan dalam Islam

Sistem penjagaan dalam Islam sifatnya berlapis. Sebelum mencapai daerah terlarang, Islam sudah mencegah terlebih dahulu. Setiap perbuatan yang mengarah kepada perbuatan terlarang, sepertinya, dalam Islam ada rambu larangannya. Contoh, waktu Kanjeng Nabi Adam masih di surga, ada larangan untuk mendekati buah K. Di sini larangan aselinya adalah jangan makan buah itu. Tapi untuk fungsi preventif, mendekati pun dilarang. Demikian pula mendekati tempat-tempat (atau event-event atau suasana-suasana) yang bisa membuat orang melakukan perbuatan terlarang, juga dilarang.

Hal ini tidak hanya terjadi pada larangan. Kewajiban pun ada penjagaannya. Dalam shalat wajib 5 waktu, di sana ada penjagaan yang disebut shalat rawatib. Kalau kita mau tekun, kita pasti tidak akan melewatkan sunnah melakukan shalat rawatib ini. Kayaknya, shalat-shalat rawatib ini berfungsi sebagai penjagaan. Kalau tidak kepepet banget, kita yang sudah terbiasa melakukan shalat rawatib tidak akan tega untuk meninggalkan sunnah ini.

Demikianlah intinya adalah di dalam Islam kalau kita mau teliti, di sana ada ajaran untuk berhati-hati dalam beramal. Kehati-hatian sangat diajarkan oleh Islam. Hendaklah kita mau dan rela untuk belajar berhati-hati. Semua ini ujung-ujungnya adalah untuk menjaga keselamatan kita di dunia dan di akhirat kelak. Mari kita tegakkan sunnah Kanjeng Rosul SAW pada diri kita masing-masing.

Posted on December 1, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: