Penyesalan di Akhirat dapat dihayati saat kita tidak “berhasil” meraih sesuatu di Dunia

Ini adalah kelanjutan refleksiku atas ketidakberhasilanku dalam ujian qualifying exam itu yang telah diumumkan kemarin itu. Aku rasakan muncul beberapa titik rasa sesal, mengapa dulu aku tidak lebih begini, mengapa dulu aku tidak lebih begitu, sehingga kalau begini dan begitu aku kemarin bisa diumumkan dalam keadaan lulus. Dan titik-titik rasa sesal itu ternyata tidak bisa mengubah apa yang sudah menjadi ketetapan.

Apakah kira-kira begitu nanti ya, orang-orang yang gagal di akherat? Mereka menyesali apa-apa yang telah mereka perbuat sewaktu hidup di dunia. Namun lagi-lagi penyesalan itu tidak ada gunanya.

Perbedaannya barangkali, kalau kegagalan di satu titik dari kehidupan seseorang di dunia, somehow, masih bisa ditebus di sisa-sisa usianya dari titik kegagalan itu, sementara itu kegagalan di akherat sifatnya relatif lebih “abadi” [bukan relatif lagi, tapi memang benar abadi adanya]. Dapat dikatakan kegagalan di dunia sifatnya relatif “semu”, namun sangat berguna untuk menjadi pembelajaran kita dalam menempuh sisa hidup kita agar lebih berhati-hati sehingga nanti di akhirat kita hanya tinggal menemukan keberhasilan dan di dunia menemukan husnul khotimah. Amin.

Posted on November 19, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: