Hikmah Ketidaklulusan Qualifying Exam

Baru saja saya mendapat kiriman email dari salah seorang mahasiswa phd ncu csie, bahwa hasil ujian telah diumumkan. Sesuai dengan perasaaan saya waktu mengerjakan ujian, saya sepertinya kesulitan. Benar. Saya belum bisa lulus algoritma. Ini adalah yang kedua kalinya untuk Algoritma.

Coba saya kilas balik ke belakang tentang persiapan saya. Perasaan memang saya belum bisa belajar dengan sepenuhnya. Lebih banyak waktu-waktu saya terkosongkan. Belajar saya belum bisa all out. Apapun yang telah terjadi, itulah saya yang telah terjadi. Saya telah seperti itu. Mungkin hanya pernyataan permintaan ampun kepada Sang Pencipta yang telah menganugerahi kesempatan dan waktu, di waktu yang lalu itu, namun saya begitu abainya dan lalainya dalam memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Selain itu juga, saya tidak berusaha untuk melakukan pendekatan kepada profesor yang memberikan ujian mata uji ini. Saya sudah terpikir untuk itu, tapi rasanya berat, mengingat algoritma memang sebelumnya saya belum pernah mempelajarinya secara mendalam. Pernah kuliah algoritma, tapi materi yang dikaji waktu itu baru bab-bab depan saja dari buku CLRS. Tidak sepenuhnya tanpa persiapan sih, saya juga menghargai diri saya yang sudah mempersiapkan segalanya dengan segala keterbatasan yang ada. Semua buku acuan sudah saya beli, juga ada yang saya kopi. Beberapa bab sudah saya lahap. Bagus, dan bagus. Bisa saya katakan, saya sudah berusaha dengan segala keterbatasan yang ada. Alhamdulillah, soal-soal yang keluar adalah pas soal-soal yang saya kurang mempersiapkannya. Alhamdulillah saya sudah berusaha.

Pelajaran kedua adalah saya merasa waktu-waktu saya yang telah berlalu belum saya isi dengan semaksimal mungkin amalan-amalan yang mendekatkan diri saya kepada ketakwaan kepada Allah swt. Nderes Alqur’an meskipun kadang saya lakukan namun belum istiqomah. Sholat malam juga belum rutin. Sholat rowatib belum istiqomah. Sedemikian banyak amalan yang terlewatkan. Sehingga semua ini bisa menjadikan waktu saya yang sudah berlalu itu boleh jadi kurang mengandung keberkahan, termasuk belajar algoritma saya bisa jadi kurang mendapat keberkahan.

Bisa saja saya beralasan, ini adalah umur saya yang sudah setengah baya. Mungkin benar juga. Tapi itu tidak usah dijadikan alasan utama. Meski setengah baya, tapi kalau kamu mendapat keberkahan waktu karena pengabdianmu yang penuh dan usahamu yang benar-benar tulus, bisa saja Dia menurunkan dan meningkatkan keberkahan kepada usaha belajarmu. Kamu di masa-masa sekarang ini sudah tidak usah lagi mengandalkan kecemerlangan otakmu. Sudah tiba saatnya bagimu untuk memurnikan dirimu, untuk kembali kepada Penciptamu, kepada Allah swt, untuk senantiasa memohon keberkahan atas usaha belajarmu.

Ketidaklulusan ini adalah hasil yang terbaik yang bisa saya petik dari usaha masa lalu yang sudah saya tanamkan dengan segala keterbatasan yang ada pada diri saya saat ini. Ini adalah keputusan dan hasil terbaik. Mudah-mudahan dengan pengalaman ini saya bisa belajar untuk bisa lebih fokus lagi; untuk lebih bisa memprioritaskan hal-hal yang perlu diprioritaskan; untuk lebih bijak dan tepat dalam memutuskan mana-mana yang perlu diprioritaskan, mana-mana yang kurang perlu diprioritaskan; untuk mengemban dan menyelesaikan amanah tugas belajar ini yang telah diberikan dan diamanatkan oleh Negara kepada saya. Selain itu, saya juga harus semakin tahu diri, bahwa usia saya sudah setengah baya. Mulai sekarang sudah saatnya untuk berbuat seperti orang tua, saya kurangi berbicara yang tidak ada gunanya, saya kurangi bercanda, tertawa-tawa yang tidak ada gunanya. Saya akan lebih dewasa dan bijak. Amin.

Terakhir, mudah-mudahan kejadian ini menjadikan salah satu sarana penyadar bagi saya agar saya mulai saat ini dan seterusnya benar-benar bisa berhitungan dengan waktu, bisa mengelola waktu dan kesempatan, bisa mempertanggungjawabkan anugerah waktu atau kesempatan yang telah Dia anugerahkan kepada saya dengan sebaik-baiknya, bisa dengan semaksimal mungkin kembali untuk mengikuti jejak langkah Kanjeng Rosul Muhammad SAW. Amin.

Terima kasih Ya Allah, Engkau telah memperingatkan saya dengan peringatan (cubitan) yang nyata ini. Semoga peringatan ini senantiasa membekas dan tertanam di dada dan di hati sanubari saya yang paling dalam ini. Amin.

[Rekap siapa-siapa yang lulus/tidak lulus ada di email gmail saya (dapat diakses oleh saya setelah login): ]

https://mail.google.com/mail/?shva=1#sent/12c5e9c4275b9a15

Posted on November 18, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: