Berkah, berkat, barakah, barokah

Setelah berkelana sekian lama, aku sadari kini (mudah-mudahan sadar untuk seterusnya) bahwa aku menjalani hidup ini kurang, atau bahkan tidak, fokus. Ketidakfokusan ini menyebabkan jalan hidupku kurang/tidak berkah. Betapa tidak? Tidurku selama ini tidak berkah. Sudah tidur 8 jam, masih ngantuk-ngantuk. Padahal orang-orang yang tidurnya berkah, tidur satu atau dua jam sudah cukup. Orang yang demikian mendapat berkah atas waktunya.

Penerima barokah tertinggi selama ini adalah Kanjeng Nabi SAW. Umur Beliau sangat amat berkah luar biasa. Dampaknya luar biasa, dan sampai sekarang masih terasakan! Setelah itu mereka yang hidupnya berkah berikutnya adalah para sahabat Kanjeng Nabi SAW; setelah itu tabi’in, setelah itu tabi-tabi’in. Bukti dari hal ini dapat kita cari di sejarah.

Ikhtiar dan berkah adalah dua hal yang bisa terjadi pada orang. Ikhtiar untuk membuat sesuatu, bisa menghasilkan sesuatu yang berguna. Sebongkah logam setelah diikhtiyari dapat menghasilkan sesuatu yang bisa terbang yang bisa mengangkut 50 orang atau lebih banyak lagi. Cita-cita bisa dicapai dengan berusaha. Tidak peduli dia Muslim atau belum Muslim, asalkan dia berusaha, cita-cita itu bisa dicapai.

Berkah hanya bisa diperoleh oleh orang Muslim. Potensi banyak sedikitnya berkah yang bisa diterima oleh seorang muslim, tergantung pada seberapa kuat dia ‘gondhelan’ (bergantung) pada bajunya Kanjeng Rosul SAW. Yakni, seberepa kuat dia meniru tapak demi tapak langkah perjalanan Kanjeng Rasul SAW. Itulah mengapa ada cerita orang yang bisa bangun malam rutin untuk salat malam, tanpa harus membunyikan alarm. Sementara itu ada orang yang memasang 10 jam weaker, tidak pernah bisa terbangun untuk salat malam. Dua fenomena ini bisa dijelaskan dengan ilmu berkah. Yang satu tidurnya berkah, yang satunya tidurnya tanpa berkah.

Kembali ke fokus. Aku harus menginvestasikan sisa waktuku untuk kembali ke jalan Kanjeng Rosul SAW. Tidak harus mak breg, langsung banyak, tapi bertahap sedikit demi sedikit. Aku harus ada target dan pelaksanaan secara kontinu. Misalnya, dalam setiap hari aku harus membaca Kitab Suci Alquran minimal setengah juz (sampai nanti mudah-mudahan tercapai target kestabilan minimal 1 juz per hari). Selama ini aku membaca Alquran cuma musiman, kadang membaca kadang tidak dalam sehari. Ini adalah bahaya.

Selain itu barusan aku denger ceramah, mengapa orang bisa begitu, katanya, bisa dirunut ke kejadian sebelumnya. Dia cerita, dulu di jaman sahabat atau bukan ya, lupa. Dia lupa hafalan qurannnya. Setelah dirunut, ternyata sebelum mengalami lupa itu, dia pernah berbuat maksiyat apa gitu. Nah! Hukum sebab akibat ini tidak hanya berlaku di jaman dulu. Di jaman sekarang pun hukum itu berlaku. Di sini ada hubungan, perbuatan maksiyat bisa merusak keberkahan hidup/umur/jalan hidup seseorang.

Conto lagi, orang yang hidupnya berkah adalah para alim ulama. Ulama di jaman dulu berhasil menulis kitab yang tebalnya ribuan halaman, tanpa bantuan fasilitas komputer, printer, listrik, dsb. Mengapa? Jawabannya, bisa dijelaskan dengan ilmu berkah.

Sebagai kesimpulan, hidup berkah hanya bisa diraih dengan mengikuti langkah Kanjeng Nabi SAW; dan keberkahan bisa berkurang atau bahkan hilang, dengan perbuatan maksiat. Kembalikan hidupmu ke fokus, yakni sesuai dengan yang dicontohkan oleh Kanjeng Nabi SAW.

Posted on November 15, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: