Menceburkan diri ke tebing terjal dan orang-orang umumnya pada tidak mau

Menceburkan diri ke tebing terjal dan orang-orang umumnya pada tidak mau, kenapa? Karena orang mengira umumnya kalau menceburkan diri ke situ dia akan mati atau terluka parah dan kesakitan. Umumnya orang cari jalan aman dan selamat sehingga bisa terhindar dari mati, terluka parah atau sakit. Ketika membawa pisau tajam, orang umumnya tidak mau menusuk dirinya sendiri. Dia takut kalau pisaunya bisa melukai dirinya dan menyakitkannya. Pengetahuan tentang bahaya fisik semacam ini orang dapatkan dari pengalaman mulai dari masa kecil. Aku lupa, sepertinya ada dalil dari Alqur’an yang memerintahkan agar manusia berusaha sedapat mungkin agar mengindari dari bahaya dan kerusakan. Juga, manusia tidak boleh bunuh diri.

Kalau ada api lilin menyala di depan kita, secara otomatis kita tidak akan mau membakarkan jari kita di atas nyala api lilin tersebut. Umumnya, kita sudah tahu kalau kulit tersentuh api, kita akan merasakan sakit dan mengalami luka bakar sesudahnya.

Sebagian besar orang normal dan dewasa sudah sepakat, menghidarkan diri dari bahaya fisik itu bisa terjadi dan terlaksana secara otomatis. Hal ini dilakukan karena akibat dari perbuatan itu bisa dirasakan seketika itu juga. Sudah ada mekanisme instingtif yang built-in pada orang (yang menginjak) dewasa normal untuk menjauhi bahaya yang biasanya berasal dari proses belajar dari pengalaman di masa lalu.

Dalam hal ini, bahaya ternyata bisa terjadi secara fisik maupun secara non-fisik. Bahaya non-fisik umumnya relatif lebih sulit dideteksi dan lebih mudah menimpa orang. Yang aku maksud dengan bahaya non-fisik itu adalah segala bahaya yang akibatnya tidak bisa dirasakan oleh fisik secara langsung. Bahaya ini ada dan biasanya informasi tentang bahaya ini dapat kita akses dari berita langit yang sudah terbukukan dalam kitab suci Alqur’an atau pun Sunnah Rasul.

Dalam kehidupan sehari-hari bahaya ini terhimpun dalam berbagai macam larangan yang oleh ahlinya sudah diklasifikasi dalam kategori makruh dan haram. Terima kasih kepada para ulama yang telah membuat kategorisasi: wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram. Dengan begitu, pengkomunikasian antar sesama bisa lebih mudah. Misalnya, melakukan ini adalah haram. Itu adalah makruh. Dsb.

Begitulah, enaknya jadi manusia. Jalan manusia sudah ada road map-nya. Jadilah perjalanan ini diharapkan merupakan perjalanan yang enak dan menyenangkan. Perjalanan ini menjadi mudah dan sederhana selama kita mau berpegang dan mematuhi panduan road map tersebut.

Posted on October 26, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: