Cerita Indomie Indomesia (Indonesia) yang ditolak Taiwan konon gara-gara beda standar ketentuan bahan pengawet

Ini juga tidak tahu yang pastinya, wong aku cuma membaca dari berita yang beredar di Internet. Aku hanya mau menulis beberapa catatan, refleksi tentang kejadian ini.

Pertama, benarkah standar pengawasan dan pemeriksaan mutu makanan di Indonesia lebih jelek daripada di luar Indonesia, khususnya di Taiwan? Kalau membaca berita, saya menghayalkan ada skenario begini. Mula-mula Indomie yang diekspor ke Taiwan memang sudah dicocokkan dan disesuaikan dengan standar di sini. Setelah diperiksa oleh otoritas Taiwan, Indomie generasi awal itu lolos. Setelah merasa lolos beberapa kali mengekspor, tiba-tiba terpikir ide gila untuk mengirim Indomie khusus yang biasa dikonsumsi orang Indonesia yang standar kualitas bahan pengawetnya asal-asalan ke Taiwan. Boleh jadi, beberapa kali pengiriman lolos. Lalu ada pemeriksaan lagi, dia ketahuan. Terjadilah rasia yang rame.

Kedua, isue perang dagang. Ada yang bilang begini di berita yang aku baca. Wah, bagus juga alasan ini. Tapi kalau memang data hasil pemeriksaan itu valid dan benar adanya, maka isue perang dagang ini bisa jadi mentah.

Ketiga, kambing hitam. Maksudnya, ada kambing hitam yang karena kambing tersebut tahu bahwa ada dua macam Indomie, Indomie nomor satu untuk konsumsi Taiwan dan Indomie beracun untuk konsumsi bangsa Indonesia, kambing tersebut memanfaatkan kesempatan. Kambing hitam tersebut lalu menyelundupkan Indomie racun ke Taiwan lewat jalur yang sama persis dengan jalur pengiriman Indomie berstandar Taiwan. Wah wah wah… bisa juga ya orang nanti bilang seperti ini.

Keempat, ada kekhawatiran juga, orang-orang yang dianggap kompeten di bidang makanan termasuk orang-orang dari pemerintah Indonesia “terbeli” oleh perusahaan agar mereka mau bernyanyi di media termasuk di TV, surat kabar, dsb., guna menetralisir suasana. Wah, kalau ini sih mengail di air keruh. Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Aji mumpung.

Kelima, Indomie dengan dua varian ini harusnya bisa dijadikan pelajaran bagi pemerintah Indonesia agar pemerintah Indonesia bisa melindungi rakyatnya dari mengkonsumsi makanan-makanan olahan berbahaya bagi kesehatan. Tapi sepertinya harapan ini masih sulit tercapai, mengingat, di sana konon masih banyak tersedia stok “oknum” yang bisa dibeli dengan uang. Segala peraturan yang ada (sebagian besar atau sebagian kecil lah) biasanya diperjualbelikan demi sebesar-besarnya keuntungan pengusaha dalam melancarkan usahanya, rakyat jadi korban tidak apa-apa yang penting “oknum” bersama pengusaha bisa kaya raya. Kalaupun ada oknum yang bersih, biasanya mereka juga tidak bisa vokal dan tidak bisa mengatasi ganasnya kerjasama dan kongkalikong antara pengusaha dengan penguasa “oknum” yang bisa dibeli itu.

Keenam, isu harga saham Indomie jatuh. Begitulah, ada sebab ada akibat. Kalau kejadian ini memang adalah sebab dari kesalahan pihak Indomie, maka jatuhnya harga saham ini adalah salah satu ganjaran yang layak diterima oleh pihak Indomie. Tapi kalau PT. Indo Mie Sukses Makmur bukan penyebab, melainkan korban dari satu dan lain hal, ya, ini namanya musibah bagi PT tersebut.

Begitulah kisah produk Indo Mie yang sempat melanglang buana ke Pulau Formosa. Indo Mie yang sebelumnya lagu iklannya pernah dibajak oleh salah satu kontestan pemilu presiden di Indonesia, kini sedang mengalami “perusakan citra” yang penyebabnya masih belum diketahui, apakah dari dalam ataukah dari luar. Yang jelas, suatu hari nanti orang harus merelakan kalau Indo Mie sudah tidak terkenal lagi atau bahkan sudah tidak ada lagi. Begitulah dunia, tidak ada yang abadi.

Posted on October 13, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: