Pengorbanan dan Kekuatan

Sacrifice. Qurban.

Tak rewangi nganti kaya ngene, dsb.

Yang penting adalah harus dihayati dan selalu diperbaharui untuk menghayati. Ibunya sampai menitikkan air mata berkali-kali melihat anaknya dengan 4 orang cucu berjuang untuk hidup dan untuk berproses dalam menjalani hidup agar searah dengan kehendakNya, setidaknya menurut yang si anak pahami. Semoga si anak tetap istikomah dan sabar dalam menjalani proses itu. Dan harapan ini terfasilitasi mengingat dia dan mereka hidup dalam kelompok yang menyandarkan (menurut kelompok itu) diri pada pedoman yang baku.

Dari penghayatan ini, diharapkan muncul kekuatan tambahan (atas idzin Allah) bagiku untuk berpikir, berperasaan, berbuat, dan bertindak sebaik mungkin yang dapat aku usahakan dan lakukan di sini. Dengan begitu, jalan (atas idzin Allah) yang akan aku lalui adalah jalan yang mengarah kepada kebahagiaan di dunia, dan kebagiaan di akhirat, dan yang menjauhkan dari siksa api neraka. Mumpung kesempatan untuk berproses masih digelar seluas-luasnya, sebagai manifestasi dari syukur, peluang tersebut harus diraih karena peluang jarang datang untuk yang kedua kalinya.

Dasar pemikiran dasar tentang kekuatan bahwa “Tiada daya dan kekuatan kecuali (atas ijin, perkenan, dan pertolongan, dsb.) dari Allah swt” harus tetap ditanamkan sedalam-dalamnya di dalam lubuk hatiku. Intinya memang konektivitas, selalu memperbaharui kesadaran akan hubungan dengan Allah swt., dalam kondisi dan situasi apa-pun. Misalnya, pernah aku mau tidur di malam hari, kok tidak tidur-tidur, ya sudah, bilang saja terus terang, saya ungkapkan ungkapan-ungkapan dahysat seperti ungkapan sholawat, istighfar, hauqolah, dsb. Lama-lama, insya Allah, atas perkenanNYa aku tidur juga. Tidur dengan nyenyak.

Mondar-mandirnya hati hendaklah senantiasa disadari dan dipantau oleh diri. Dan tidak ada yang bisa mengarahkan arah hati kecuali atas perkenan dari Allah swt. Tidak ada yang bisa selamat, kecuali diselamatkan oleh Allah swt. Kalau ada yang mengaku selamat, saya tidak tahu, apakah pengakuan golongan yang selamat itu memang selamat benar-benar di sisi Allah swt. Perjalanan ini harus dilalui, apapun hasilnya. Perjalanan ini harus ditargeti dan dicita-citai mau kemana berjalan. Perjalanan ini harus mengarah ke target, cita-cita dan tujuan kemana perjalanan. Kalau kadang ada badai, kadang tenang, kadang hujan, kadang panas, kadang angin sepoi-sepoi, itulah seni berjalan. Semua itu kan tidak terjadi di hati. Ataukah terjadi di hati? Hati yang tenang mungkinkan terombang-ambing oleh badai, hujan, angin, panas terik? Ataukah sebaliknya, dengan hati yang tenang, badai, panas terik, angin, hujan, tidak terasakan? Karena mungkin hati yang tenang adalah ibarat bertempat di tempat yang kokoh terlindungi dan bebas dari pengaruh badai, petir, angin dan hujan. Di dalam tenang, meski di luar seperti itu.

Kadang keinginan harus dikekang dan dicegah karena keinginan kadang bukan keinginan yang membawa ketenangan. Proses pengekangan kadang membuat gundah dan gelisah. Tapi sifat gundah dan gelisah yang ini adalah sementara, dan tidak membuat orang mati karenanya. Ketika sudah berhasil mengekang dan menahan, suasana menjadi cerah lagi. Langit terang. Jadi proses pelatihan kadang adalah dengan melawan dan mengalahkan keinginan pribadi. Kalau keinginan pribadi sudah sering berhasil ditaklukkan, kiranya akan enak dan lebih mudah lah diri ini mau dibawa ke sana. Selamat Berlayar!

Posted on July 17, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: