Dapatkah kesedihan dialihkan untuk kemudian bisa hilang?

Kesedihanku kali ini bukan kesedihan biasa. Kesedihan ini disebabkan oleh kondisi hidup yang diluar orang hidup pada umumnya. Umumnya orang hidup, di usia 40an, adalah bersama istri, anak-anak, dan rekan-rekan setempat kerja, juga tetangga; pokoknya bersama orang-orang dekat. Ada interaksi harmonis di dalam keluarga bersama isteri dan anak-anak. Isteri merasa ada suami. Anak-anak merasa ada bapak yang hadir langsung berinteraksi bersama mereka.

Akan tetapi ketika sang bapak pergi jauh untuk alasan tertentu, kehidupan umum seperti di atas tidak terjadi. Si bapak merantau, menyewa satu kamar asrama. Sebagian besar waktunya dia habiskan untuk belajar, dan sekali-sekali berinteraksi dengan orang-orang melalui Internet dengan sarana facebook, email, dan chatting.

Yang menjadi masalah adalah kalau dia mempertanyakan, kok jadinya seperti ini. Padahal, sebelumnya, kejadian ini terjadi itu dulu dia sendiri yang memutuskannya. Dia sendiri telah memilih untuk begini. Konsekuensi dari sebuah pilihan itu ada. Seberapa menguntungkan dan/atau merugikankah dampak dari konsekuensi ini?

Berbicara untung/rugi itu relatif. Namun, setiap kejadian bisa dibawa kepada untung asalkan disertai dengan landasan berpikir, berperasaan, dan bertindak yang baku.

Dari sisi kewajaran, ada beberapa kewajiban yang telah terlepas gara-gara pilihan ini. Namun hal ini dapat diminimalkan manakala ada rasa saling ikhlas antar pihak-pihak yang terkait.

Diasumsikan, perpisahan ini ada batas waktunya. Ada saatnya nanti si bapak kembali lagi bersama-sama keluarga tadi. Pada saat tersebut, diharapkan si bapak telah berhasil menempuh pelajaran dan menyandang titel tertentu. Kapasitas keilmuannya meningkat, di samping pelajaran-pelajaran hidup lain yang diharapkan juga dia peroleh.

Kalau sekali, dua kali, beberapa kali waktu terjadi rasa kehilangan lalu muncul rasa sedih, hal itu wajar dan manusiawi. Keadaanlah yang membuat hal ini terjadi. Namun, jangan sampai kesedihan ini mengambil alih. Jangan. Kamu harus segera bangun, bangkit, kembali ke pokok persoalan: Mengapa kamu sampai di sini? Untuk apa kamu di sini?

Posted on July 14, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: