Banyak atau sedikit?

Banyak atau sedikit adalah dua kata sifat yang saling berlawanan. Ada semacam kontinuum, jeda, kesenjangan untuk bergeser dari sedikit ke banyak dan sebaliknya.

Seberapa banyak atau seberapa sedikit yang kita perlukan? Kalau ditinjau dari belakang, kita tidak memerlukan apa-apa, secara pribadi. Tapi ada yang bilang, kita perlu meninggalkan sesuatu yang baik untuk yang kita tinggalkan. Enggak juga. Kalau orang meninggal, yang bermanfaat bagi orang adalah amal sholeh, keturunan soleh, dan ilman nafi’an.

Seberapa banyak yang diperlukan dari ketiganya itu? Perlukah orang ngongso untuk mengusahakan ketiga bekal itu? Tapi ngongso sendiri itu apa? Samakah ngongso dengan ngoyo?

Manusia punya batas potensi maksimal yang bisa diusahakan. Apakah ngongso itu adalah mengusahakan sampai dengan batas maksimal yang dapat diusahakan? Ataukah ngongso itu seperti yang waktu kecil orang sering bilang? Dulu kalau orang ngongso, orang mengusahakan sampai di luar batas, sampai melanggar hak-hak diri pribadi dan orang lain. Kalau ngoyo bagaimana?

Sementara itu aku melihat, batas orang dari waktu ke waktu juga berubah-ubah. Ketika orang sedang dalam kondisi konek (dan dekat) dengan Tuhannya, batasnya seakan-akan sangat fleksibel dan lentur. Mengerjakan apa saja hampir selalu selesai dan berhasil dengan bagus. Tapi ketika orang sedang terjerat dengan suasana kacau beliau, mendapat dan mengerjakan tugas ringan saja terasa dan dirasakan sebagai beban yang teramat berat. Hasilnya tentu saja tidak memuaskan dan tidak optimal.

Kalau keinginan bagaimana? Maksudnya keinginan materi ya? Ingin kaya kah? Ingin mobil mewah kah? Ingin rumah mewah kah? Soalnya, saya pernah ingat Mas Tung Desem Waringin kalau memotivasi orang suka menyuruh untuk punya keinginan dan keinginan itu ditulis. Keinginan itu pun tidak boleh tanggung-tanggung. Kok saya jadi ingat dengan doa. Kalau orang menulis keinginan, apakah itu dapat diartikan sebagai doa orang itu? Haruskah doa itu selalu dibatin? atau diucapkan? atau malahan sebaiknya ditulis?

Bagaimana pula dengan cita-cita? Kata Mas Tung juga, orang mesti punya cita-cita, dan cita-cita itu mesti ditulis pula. Saya pikir juga, cita-cita yang ditulis, bisa berfungsi sebagai doa, sebagai rajah yang bisa membantu memotivasi orang untuk mengarahkan langkah tindakannya. Kalau tanpa arah, apa yang mau dikerjakan bisa terasa lebih sulit dan tidak pasti bila dibandingkan dengan kalau orang sudah mempunyai keinginan dan cita-cita yang sudah tertulis secara eksplisit, spesifik dan detil.

Kalau dari ilmu kemungkinan, lebih besar mana kemungkinannya? orang yang punya keinginan A lalu berhasil mendapatkan A? ataukah orang yang tidak berkeinginan, lalu dia mendapatkan A?

Posted on June 9, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: