Batas capek, pedih, sedih, dsb., sampai di manakah?

Batas capek, pedih, sedih, dsb., sampai di manakah?
 
Ketika hidup di dunia ini, secara teoritis, semuanya serba terbatas. Tidak mungkin saya bisa tumbuh terus sampai menembus tinggi dua meter, apalagi saya bisa bertambah tinggi sampai sepuluh meter. Saya juga tidak mungkin berberat badan sampai 200 kg, atau 1000 kg. Tidak mungkin. Secara kelaziman tidak mungkin, semua itu terjadi. Umumnya tidak mungkin terjadi. Secara sunnatullah yang selama ini terjadi, hal-hal itu tidak mungkin. Artinya apa? Dari sisi fisik, kita terbatas.
 
Dari sisi kemampuan menyelesaikan masalah, kita juga terbatas. Sumber yang ada terbatas. Waktu hidup kita terbatas. Volume otak, hati, dan organ-organ yang berhubungan dengan itu juga terbatas. Mobilitas kita untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain juga terbatas.
 
Dalam konteks ini, Tuhan berfirman, kurang lebih, "Dia tidak akan membebani hambaNya melebihi apa-apa yang hambaNya mampu untuk menjalaninya." Di sini kita menangkap firman Tuhan, beban hidup yang Dia berikan kepada hambaNya juga sudah diperhitungkan. Dan perhitungan siapa yang lebih teliti bila dibandingkan dengan perhitungan Tuhan? Tuhan itu Maha Memperhitungkan. Ingat kejadian pribadi yang telah kau terima sebagai pelajaran, perhitungan Tuhan memang benar-benar super teliti.
 
Sehingga kunci dari segala kunci adalah memasrahkan semua yang kita alami, baik yang kita nikmati maupun kita derita, kepada Tuhan. Semua ini adalah dari Tuhan untuk kita jalani. Jalani saja, dan sudah. Tapi dalam hal ini, perlukah kita bersedih atau bergembira? Saya belum tahu, apakah ada larangan untuk bersedih atau untuk bergembira. Tapi saya pikir, konteksnya saja yang kita ganti. Semua kesedihan dan kegembiraan hendaklah kita kembalikan kepada Tuhan. Bersedihlah langsung kepada Tuhan. Itu lebih baik saya pikir, dibanding dengan bersedih kepada sesama makhluk, seperti curhat dan sejenisnya. Kalau ingin curhat, curhatlah langsung kepada yang menguasaimu. Dalam hal ini karena saya bealiran berkah, saya bisa juga bertabarukan dengan para auliaullah dan para kekasih Tuhan. Panggillah Kanjeng Nabi Muhammad saw. Jasad Baginda Kanjeng Nabi Muhammad secara sejarah dan kenyataan sudah tidak ada. Tapi Kanjeng Nabi kan bukan hanya jasad, Beliau juga non-fisik.
 
Berarti saya jadi orang yang fatalistik? mengingkari kedigdayaan diri dalam berusaha keras dalam berikhtiyar sekeras-kerasnya? Sepertinya iya, karena saya pikir sekeras apapun ikhtiyar kita, kontribusinya terhadap suksesnya kita mengemban beban (kegembiraan/kesedihan) yang dibagi-bagikan oleh Allah swt itu hanya berapa persen? Saya kira tidak ada 1 persen. Saya kira 99 persen lebih keberhasilan terletak pada keberlanjutan konektivitas /keterhubungan unsur non-fisik kita kepada Allah swt dan kepada para kekasihNya.
 
Kalau pun nanti saya terlihat berikhtiyar dengan sekeras-kerasnya dan memang tampak saya berikhtiyar super keras, karena saya tidak meyakini bahwa ikhtiyar ini menentukan keberhasilan saya mengemban beban (kegembiraan/kesedihan), ikhtiyar yang keras itu pun semata-mata adalah karena kasih sayang dan dorongan dari Allah swt. Tanpa dari Allah, tidak akan ada daya dan kekuatan untuk bisa berikhtiyar sekeras-kerasnya.
 
Kok menyimpang dari pertanyaan semula, "Batas capek, pedih, sedih, dsb., sampai di manakah?"
 
Jawabnya, asal kita mau menerima pemberian Allah (berupa capek, pedih sedih, dsb.,) dengan ikhlas, kita akan tetap mampu untuk menanggungnya. Ini adalah jaminan dari Allah sendiri.
 
Lho, tapi kok ada orang yang putus? merasa tidak kuat? putus asa? bunuh diri? itu bagaimana?
 
Ya, itu salah mereka sendiri, mengapa mereka memilih untuk tidak percaya yang difirmankan Allah. Kalau mereka memilih untuk percaya, tidak ada itu kamus putus, merasa tidak kuat, putus asa, apa lagi bunuh diri.
 
Kisah-kisah ketahanan (terhadap beban gembira /sedih) dari masa ke masa umat manusia sudah banyak dibukukan. (Iya po? Contohnya kisah apa?) Banyak, lah. Kisah-kisah dari mulut ke mulut banyak juga lah. Coba saja belajar untuk "membaca", banyak kisah ini. Mereka yang yakin akan firman Allah, akan mengukir kisah yang kita sendiri takjub membacanya. Mereka yang lupa dengan firman Allah, kita bisa membaca akhir ceritanya bagaimana. Meminjam istilah dari simbah dan bapak/ibu: Koco brenggolo. Kita bisa mengaca kisah-kisah kehidupan yang dialami oleh orang-orang di sekeliling kita.
 

Posted on May 31, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: