Rela untuk Berjalan dengan Suka

Kutanyai hatiku yang terdalam, sudah sampai di mana perjalanan hidupmu sekarang. Belum sampai ke mana-mana. Aku masih tetap di sini. Aku duduk di sini. Belum tahu, berapa lama lagi duduk ini. Lama atau sebentar siapa yang tahu.

Siapa yang berjalan, tidak ada. Semuanya sudah sesuai dengan bagiannya. Aturan sudah sempurna. Tinggal dijalani. Tidak ada lagi yang usah terpaksa berjalan.

Kalau ada yang merasa terpaksa, itu karena gesekan dengan keinginannya sendiri, sak karepe dhewe. Kalau orang sudah tidak sak karepe dhewe, tidak seenak sumbu perutnya, dia akan berjalan tanpa dengan terpaksa. Dia rela berjalan, berjalan, dan berjalan. Berjalan teratur. Di sepanjang jalan, dia terus belajar, terus menikmati kenikmatan berjalan.

Tiada paksaan untuk berjalan ke arah sana. Yang merasa terpaksa tentu akan merasa betapa berat, menyiksa, dan melelahkan perjalanan ini. Yang sudah rela, berjalan itu indah. Perjalanan ini tidak terasa sangat menyedihkan. Perjalanan ini tidak di tanah kering berbatuan. Perjalanan ini indah nian.

Sepanjang jalan yang terlihat hanya indah dan keindahan. Tidak ada tanah kering, tidak pula bebatuan. Yang ada padang rumput hijau. Bunga-bunga harum semerbak. Air sungai bening gemericik melintasi sela-sela bebatuan.

Bebatuan yang terendam air sungai.

Posted on May 7, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: