Apa yang harus aku lakukan ketika aku mengalami stagnasi, kemandegan, kejumudan?

Apa yang harus aku lakukan ketika aku mengalami stagnasi, kemandegan, kejumudan?

Solusi yang superficial memang ada, seperti, mood itu dipengaruhi oleh fisik. Mood yang stagnan (mandeg) bisa diubah dengan jalan aktivitas fisik.

Pernah dulu aku mengikuti Training Pak Tung Desem Waringin, dia pernah mengajarkan Jurus Guncang Bumi. Para peserta Training diajari meloncat-loncat (lunjak-lunjak) di tempat, sambil meneriakkan yel-yel yang bermakna positif. Tapi apakah ini bisa menyelesaikan secara total? Asumsi dari teknik ini adalah gerakan fisik memengaruhi attitude, termasuk mood. Orang yang lagi tidak mood bisa dibuat mood dengan cara ini.

Tidak adakah solusi fundamental untuk mengatasi hal ini? Tapi kayaknya memang harus begitu; harus bertahap. Cara instan apa malahan tidak berbahaya? Seperti ketika Anda sakit demam. Anda berobat ke dokter. Dokter memberi obat. Apakah dalam hal ini, obat yang kita peroleh harus kita minum semuanya dalam satu waktu? Tidak bukan? Ada aturannya, seperti tiga kali sehari sesudah makan selama misalnya tiga hari.

Kalau analoginya seperti itu, agak masuk akal. Tapi saya masih penasaran tentang kasus stagnasi atau kemandekan atau kemogokan. Kasus ini kan kayaknya berhubungan dengan cara pandang, cara orang memandang sesuatu.

Adakah cara pandang yang bisa menjadikan orang terbebas dari stagnasi atau kemandekan? Kita ingat dalam hal ini, hidup kita di dunia ini kan Cuma sebentar. Kalau sedikit-sedikit harus terjadi stagnasi, sementara jatah waktu hidup terbatas, sementara target setoran kita belum terpenuhi, apakah hal ini tidak berbahaya?

Cara pandang revolusioner apa yang bisa menjadikan seseorang bisa “sekali berarti, sesudah itu mati.”

Hidupnya bisa menjadi hidup yang benar-benar penuh makna. Hidupnya bisa menjadi rahmat bagi seluruh alam. Hidupnya bisa membawa keberkatan dan keselamatan serta keamanan dan kemakmuran seluruh umat manusia di seluruh dunia ini, bahkan bagi alam semesta.

Kelihatannya kita hampir menemukan jawabannya. Dari masa ke masa, dalam sejarah apa kita tidak mengetahui bahwa model atau contoh orang yang seperti ini ada?

Kesimpulan: kalau ingin bebas dari kejumudan, kemandekan, stagnasi, cobalah untuk meniru Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Secara ringkas dan sederhana, kamu kan pernah mendengar apa saja atribut yang Beliau sandang. Atribut itu adalah atribut SHIDIQ, AMANAH, TABLIGH, dan FATHONAH.

Beliau menjunjung tinggi nilai-nilai:

  • kejujuran
  • kepercayaan
  • penyampaian kebenaran tanpa menutup-nutupi /menyembunyikan
  • kecerdasan

Posted on April 24, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: