Anaknya kecelakaan

Interaksi yang telah dibina sekian lama secara intens, membuahkan hasil. Rasa sayang, haru, sesal, sedih bercampur baur. Betapa tidak, saat kejadian itu dia sedang berada di luar jauh dari yang mengalaminya. Anaknya kecelakaan jauh di sana.

Siapa yang tidak menyesal, awal kejadian adalah si kakak memboncengkan adik dengan sepeda motor di jalan yang cukup sempit tapi padat dengan lalu lintas. Entah bagaimana detilnya, ada pengendara sepeda motor yang sempat menyerempet sehingga si adik yang dibonceng cedera. Ada dua jari kaki kiri yang harus diamputasi. Siapa yang tidak menyesal, telah membolehkan anak usia 14 tahun mengendarai sepeda motor dan membocengkan si adik di jalan sempit yang padat dan ramai.

Uang dapat dicari untuk menebus biaya operasi dan rumah sakit, tapi jari kaki yang putus kemana harus mencari ganti. Belum lagi rasa sakit dan nyeri saat kejadian, saat operasi dan pasca operasi, juga saat rekoveri.

Wajar kalau harus menyesal, dan itu manusiawi. Yang perlu diingat, dibalik semua rentetan peristiwa itu pasti ada pelajaran dan hikmah yang bisa dipetik, baik oleh pihak-pihak yang sedang mengalami, anggota keluarga dekat, jauh, kerabat dan tetangga yang ikut bersaksi, maupun siapa saja. Situasi seperti itu, introspeksi adalah tepat.

Umumnya orang menyebut kejadian ini adalah musibah. Biasanya konotasinya adalah negatif. Apakah memang demikian? Apakah setiap musibah yang menimpa orang itu negatif, padahal tidak ada musibah kecuali datangnya atas perkenan Tuhan. Tidak sedikit memang musibah yang melalaikan orang, memerosokkan orang ke tingkat yang lebih turun. Tidak sedikit pula orang terangkat lewat musibah asalkan tahu cara menyikapi dan menghadapinya.

Sikap pertama kalau tertimpa musibah adalah dengan melafadzhkan kalimat انالله و انا اليه راجعون . yang artinya kurang lebih “Bahwa sesunggunya kita ini adalah milik Allah dan sesungguhnya kepadaNya lah kita kembali”. Kita tidak mempunyai kepemilikan atas kita sendiri, apalagi atas anak-anak, istri, harta benda, ilmu, dan sebagainya. Semuanya itu adalah milik Allah, mutlak. Setelah kita ucapkan kalimat itu, kita harus menghayati di dalam hati, merenungi kalimat itu, baik kita dalam posisi yang sedang mendapatkan musibah maupun yang sedang menyaksikan ada rekan atau orang yang sedang tertimpa musibah, baik kecil maupun besar.

Intinya adalah pasrah. Dalam kasus jari kaki yang terpotong setelah kecelakaan di atas, apa lagi jari kaki yang harus dikembalikan, wong nyawa kita setiap saat juga harus siap dikembalikan kepada Tuhan. Seluruh raga kita juga setiap saat, suka maupun tidak suka, akan kembali kepada Tuhan. Dengan musibah, baik sedang melakukan maupun sedang menyaksikan, kita diminta untuk semakin meningkatkan kepasrahan diri kita kepada Tuhan.

Apa sih yang kita punyai? Kita tidak punya apa-apa. Anak-anak, istri atau suami, harta benda, ilmu, apa saja yang kelihatannya milik kita, itu ternyata bukan milik kita.

Posted on April 19, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: