Menyaksikan Orang Risau

Risau adalah perasaan tidak menentu yang dialami oleh seseorang karena takut kalau-kalau harapan yang diinginkan tidak menjadi kenyataan. Harapan bisa juga berupa cita-cita, keinginan, ataupun angan-angan. Harapan bisa juga berupa rencana. Semua itu terkait dengan peristiwa yang mungkin terjadi pada seseorang di masa depan. Perasaan ini terjadi manakala orang sedang lalai. Dia lalai akan kenyataan bahwa bagaimanapun orang tidak akan mampu 100% mengendalikan apa yang akan terjadi di masa mendatang.

Orang boleh berencana, lalu melaksanakan apa-apa yang direncanakan itu, lalu menuai hasil. Hasil boleh sesuai dengan yang diharapkan ketika berencana, boleh juga melebihi dari yang direncanakan, tapi boleh juga kurang dari yang diharapkan saat berencana. Jadi ada 3 kemungkinan: di atas, persis (pas), di bawah target/harapan saat merencana.

Kelalaian yang menyebabkan terjadinya risau adalah berupa lupa diri. Dia lupa posisi dirinya. Dia sedang lupa tempat dia berada saat ini. Dia lupa akan fungsinya saat ini. Dia lupa akan kewajibannya.

Posisi orang saat ini adalah di bumi. Dia sedang bertempat di bumi. Itupun tidak semua bumi dia injak. Dia hanya menginjak sangat sedikit persen dari permukaan bumi. Silakan hitung sendiri, luas permukaan bumi adalah 510.072.000 juta m². Umumnya orang beraktivitas fisik dalam radius 10 m².  Jadi posisi kita di muka bumi amatlah kecil. Ini belum dibandingkan dengan sistem tata surya, galaksi, dan seterusnya. Jadi dari segi tempat orang itu kecil.

Bukan hanya tempat, dari segi waktu, orang itu beraktivitas di bumi dalam rentang waktu yang tidak tak terbatas. Misalkan waktunya 100 tahun, sebelum dan setelah durasi ini orang tidak “berkuasa” apa-apa. Dibandingkan dengan umur bumi yang 4.54 × 109 tahun, umur orang yang cuma 100 tahun juga tidak ada apa-apanya.

Kalau saja kepercayaan orang bahwa orang hidup di bumi ini mengemban fungsi, tanggung jawab, misi, dan amanah dipegang dan diresapi, risau itu merupakan salah satu kendala yang bisa menyebabkan fungsi orang menjadi menurun. Pertanyaan ‘untuk apa aku di sini’ kelihatannya atau memang sulit untuk dijawab seorang diri. Beruntunglah orang-orang yang beriman, mereka mendapatkan petunjuk dari sumber aselinya melalui perantara kitab suci yang diperantari oleh orang suci, Kanjeng Nabi. Hidup orang beriman menjadi lebih efisien, meskipun singkat tapi bermakna banyak dan bermanfaat banyak, dibanding hidup orang belum beriman.

Orang belum beriman kesulitan untuk menjawab pertanyaan ‘untuk apa aku di sini’. Ada yang bisa menjawab dan asal menjawab saja dengan konsekuensi hidup salah arah, hidup membebani, hidup mengganggu, hidup bikin onar, hidup bikin kisruh, hidup mematikan yang lain, hidup memiskinkan yang lain, hidup angkara murka, hidup tidak tahu diri, hidup takut mati, dan sejenisnya. Kalau saja mereka beriman, mereka tentu tidak akan begitu. Mereka akan hidup menjalankan fungsi mereka. Mereka akan hidup yang bisa menghidupkan sekelilingnya, mereka hidup dengan penuh berkah, mereka melindungi satu sama lain, mereka saling menyayangi, mereka tahu diri, mereka mempersiapkan diri, mereka … .

… mereka tidak risau.

Benarkah mereka tidak risau?

Mereka ternyata juga tidak tidak risau. Ataukah mereka tidak risau? Sampai di sini aku belum bisa menjawab, benarkah orang beriman tidak risau?

Posted on April 2, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: