Bersabar Ketika Sedang Sedih

Inilah yang menjadi catatan. Ketika kita sedang sedih, adakalanya bahkan sering kita tidak mau sedikit bersabar. Maunya kita dengan segera menghilangkan kesedihan itu. Yang disayangkan caranya kadang tidak pakem. Misal, ketika sedih, kita terus mencari aktivitas sehingga lupa sedih dengan cara-cara yang tidak terkait dengan akar masalahnya. Kalau dulu, aku ketika bengong, suka bersepeda tanpa tujuan, ke toko buku. Tidak beli buku, tapi ya tanpa tujuan, hanya sekadar ingin mengusir kesedihan. Berhasil sih, kadang. Namun apa ya itu cara mengatasinya?

Kan sebaiknya perlu juga dicoba, ketika dalam keadaan sedih, apapun penyebabkan, justru saat itu kita mencoba berakrab-akrab dengan keadaan itu. Kita coba diam saja, mengheningkan cipta, mengamati kita yang sedang sedih itu. Kita diam di tempat, boleh dengan misalnya sholat, lalu merenung, mencoba menjaga jarak dengan kita, kita keluar sebentar dari diri kita, misalnya kita ke naik ke atas pohon, lalu kita lihat diri kita yang sedang sedih dan sholat itu. Kita pandangi kesedihan kita dari atas pohon, kita amati, kita hayati, kok bisa ya kita bersedih.

Terus coba bertahan begitu, sampai dengan cara itu kita bisa menaklukkan kesedihan kita sendiri, tanpa harus perlu memberi solusi dengan beraktivitas tanpa tujuan. Dengan begini, mungkin kita akan bisa menjadi lebih akrab dengan kita. Kita menjadi sedikit makin bertambah tahu, siapa diri kita. Cara ini bukan hanya dapat kita lakukan ketika kita sedang sedih. Ketika sedang ditimpa kegembiraan pun, kita bisa berbuat demikian. Kita bermunajad, misalnya dengan sholat hajad. Lalu kita naik ke atas pohon, bayangkan pohon yang tinggiiii sekali. Lalu kita lihat tubuh kita dan kegembiraan kita dari atas pohon yang tinggi itu. Lihatlah betapa gembiranya kita karena satu atau lain hal. Nah, dengan begini, kita akan sedikit bertambah tahu, siapa diri kita.

Bagaimana kalau kita tidak sedih, juga tidak gembira. Ya, sama saja. Kita bisa berbuat serupa. Bermunajad, misalnya dengan sholat, lalu kita lari dari kita, kita lihat dan amati, perhatikan, kenapa kok kita tidak sedih, tidak pula gembira. Kenapa kita kok datar-datar saja.

So, untuk mengatasi rasa sedih, dan kawan-kawannya, termasuk cemas, setres, tertekan, depresi, apa lah namanya, termasuk istilah-istilah lain yang nanti akan dipakai manusia untuk melabeli gejala sejenis, cobalah untuk melakukan apa yang telah aku sarankan di atas. Dengan begini, siapa tahu kita bertambah tahu, siapa diri kita.

Posted on March 30, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: