Mendoakan

Mendoakan siapa? Siapa saja. Orang bisa mendoakan diri sendiri, orang tua (ibu dan bapak), saudara-saudara, teman-teman. Mendoakan menjadi aktivitas universal yang bisa dilakukan untuk siapa saja. Tentu saja berdoa ditujukan kepada Tuhan. Tuhan yang Maha segalanya, termasuk Maha Mengabulkan Doa.

Kapan? Kapan saja. Bahkan setiap kali kita bertemu siapa saja, kita bisa mendoakan siapa saja.

Adakah efek samping? Efek samping yang dominan dari kebiasaan mendoakan apa saja siapa saja keadaan apa saja, adalah hati kita menjadi ikut tersapu. Tentu di sini berdoa kita batasi kepada harapan-harapan yang baik di sisi Tuhan. Kalau harapan-harapannya jelek, itu namanya bukan doa tapi umpatan (Jw: misuh-misuh).

Demikian fleksibelnya aktivitas berdoa baik dari sisi tempat maupun sasaran, Kanjeng Nabi dulu bersabda, “Doa adalah senjata kita”. Apalagi kalau yang berdoa kebetulan sedang punya idu geni, wah, amboi, betapa Tuhan membuat skenario yang melibatkan kita. Ini bukan berarti kita jadi berjasa dan penting. Tidak sama sekali. Otoritas mutlak mengabulkan doa ada di sisi Tuhan. Kalau pun Tuhan berkenan mengabulkan doa kita, itu semata-mata adalah kasih dan sayang Dia kepada kita. Betapa sayang Tuhan kepada kita tidak terperi. Lalu, kenapa kah kita sering lupa???

Posted on March 23, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: