Beban Hidup, Tanggung Jawab Hidup, atau Jatah Hidup, atau Pekerjaan Hidup

Hujan turun dari langit. Gerimis atau lebat turun dari langit. Air hujan jatuh membasahi bumi. Siapa yang menanggung beban air hujan? Bumi atau tanah. Dulu, tidak masalah. Berapa pun hujan yang turun tidak masalah. Sebagian meresap tersimpan di perut bumi, sebagian mengalir di permukaan. Waktu itu tetumbuhan bebas tumbuh, bebas hidup sampai tua setua-tuanya, bebas berkembang biak sebiak-biaknya.

Kini ada perubahan. Hujan yang lama sedikit dan deras sedikit mengakibatkan bumi tidak kuat menyangga beban air yang turun. Sebagian besar tidak terserap tersimpan di perut bumi, tapi mengalir di permukaan. Orang bilang itu banjir. Tidak asing rutin setiap musim hujan kota-kota besar bahkan kecil berlangganan banjir. Bumi sudah tidak mau menanggung beban air hujan turun.

Dulu orang bekerja tidak suka lembur. Bercocok tanam, memelihara ternak, dan berjualan dilakukan sekadarnya. Listrik tidak perlu. Orang dulu tidak perlu listrik, tidak perlu TV. Mereka siang bekerja, malam beristirahat di dalam kegelapan malam. Istirahatnya total karena tidur dalam gelap. Kepenatan fisik di siang hari menambah lelapnya tidur di malamnya.

Kini orang bekerja bagaikan harimau dikejar setan. Orang berlari terbirit-birit mengejar cita-cita tinggi. Hiruk pikuk, lalu lalang kendaraan berasap memadati dan melintasi jalan-jalan raya. Orang-orang mondar-mandir naik kendaraan umum atau pribadi. Mereka mengejar target yang mereka tetapkan sendiri dengan makin lama makin tinggi. Satu target tercapai, dibuatlah target-target baru yang lebih tinggi. Orang bergumul dengan target-target. Slogan efisiensi, optimalisasi, optimisasi, percaya diri, eksplorasi, mekanisasi, otomatisasi, dan lain-lain dibuat untuk melegalisasi apa yang mereka lakukan.

Makin tinggi penghasilan menuntut penghasilan yang lebih tinggi lagi. Makin banyak produksi, memacu produksi lebih banyak lagi. Makin cepat mobilisasi, menuntut mobilisasi yang lebih cepat lagi. Batas atas dari target orang seolah-olah tidak ada. Target sudah tercapai, ingin lagi dan ingin lagi.

Aku pernah melihat orang menjual hamster. Waktu itu seekor hamster berjalan di dalam mainan roda yang berputar. Makin cepat hamster berlari, putaran roda semakin kencang. Orang sekarang seperti hamster main rodakah? Tidak juga. Orang bukan hamster. Kalau hamster yang berlari di dalam roda putar itu adalah atas dorongan insting berlari. Tapi orang yang berlari kencang mengejar target itu tidak mesti atas dorongan insting. Ada mekanisme kompleks yang terjadi di dalam diri orang itu mengapa dia berbuat seperti itu.

Motivasi orang untuk berlari semakin kencang dalam mengejar target bermacam-macam. Tidak dipungkiri, ada yang seperti hamster. Orang jenis ini hidupnya untuk makan dan main. Hidup hanya untuk berseda gurau. Tapi ada jenis orang yang mempunyai misi mulia bahwa semua yang mereka lakukan semata-mata adalah untuk melayani Tuhannya. Status dia tetap rendah. Apapun target yang telah berhasil dia capai, dia tidak berbesar kepala atau berbusung dada. Semau dia serahkan kembali kepada Tuhannya. 

Posted on February 25, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: