Kecerdasan Marah (KM) yang Tinggi Diukur Saat Kamu Menghadapi Orang yang Lagi Memarahimu

Kecerdasan Marah (KM), saya sebut demikian karena saya belum menemukan istilah yang tepat (lebih) untuk menyatakan sejauh mana orang bisa menahan amarah dalam menghadapi atau menanggapi rangsangan yang terjadi di sekitarnya.

Marah yang saya maksudkan di sini adalah marah yang dilarang oleh Kanjeng Rasul. Saya ingat penceramah, Kanjeng Rasul pernah bilang sampai tiga kali, “Jangan Marah, Jangan Marah, Jangan Marah”. لاتغضب لاتغضب لاتغضب

tapi saya konteksnya lupa. Yang jelas, belakangan aura marah sudah memenuhi jagat. Setiap detik saya menduga keras ada jutaan orang sedang marah. Gelombang marah atau bekas atau atsar kemarahan ini akan memenuhi atmosfer bumi dan akan mempengaruhi benda mati maupun makhluk hidup lainnya termasuk manusia (mungkin lho ya). Apalagi sekarang media komunikasi dengan memanfaatkan teknologi material sudah meluas, seperti televisi, internet, radio, koran, dsb. Ekspresi kemarahan orang tidak hanya memadati atmosfer dan sela-sela bumi (mungkin) tapi juga memadati media-media yang sudah ditemukan kembali oleh manusia.

Dalam skala individual, hubungan antar pribadi, baik di rumah maupun di tempat kerja atau di tempat-tempat publik, kita secara langsung juga sering menyaksikan ada adegan langsung orang saling memarahi. Meskipun saya belum tahu benar ilmu marah, saya yakin marah-marah yang dipertontonkan orang secara langsung maupun tidak langsung ini adalah marah-marah dalam kategori yang dilarang Kanjeng Rasul.

Dalam perang, saya belum tahu juga bagaimana cara membunuh musuh tanpa disertai dengan amarah. Saya ingin tahu ilmu ini, bagaimana Kanjeng Rasul dan para Sahabat dulu mencontohkan cara yang baik dan benar dalam membunuh musuh. Perasaan saya, mereka yang terbunuh oleh Kanjeng Rasul mungkin seperti halnya ayam yang kita sembelih dengan memakai bacaan atas nama Tuhan, بسم الله الرحمن الرحيم x. Jres, darah muncrat! Tapi ini gak tahu lho ya. Mudah-mudahan ada pihak yang mengklarifikasi, terutama pihak yang tahu tentang hal ini.

Kembali ke KM. Saya hanya ingin berkata, kalau Kanjeng Rasul SAW melarang marah sampai tiga kali, itu artinya kita harus senantiasa berusaha untuk tidak marah. Kita harus dengan sadar berniat untuk melatih terus dan mewujudkannya dalam medan kehidupan nyata kita sehari-hari. KM individual orang-orang yang semakin tinggi akan menghasilkan KM kolektif masyarakat yang tinggi pula. Kalau KM masyarakat sudah tinggi, betapa tenteramnya masyarakat itu. Kalau KM bangsa-bangsa juga sudah tinggi, betapa perang sudah tidak lagi diperlukan, mungkin, mungkin.

Kayaknya perang yang sering terjadi belakangan antar dua pihak atau lebih yang bertikai disebabkan oleh dua pihak atau lebih yang saling marah-marah. Ini mungkin berbeda dengan perang Kanjeng Nabi melawan kaum kafir harbi di jaman dulu. Kelompok Kanjeng Nabi, saya yakin, mereka adalah kelompok yang hatinya sudah damai dengan KM yang super tinggi. Kelompok kaum kafir harbi, saya yakin, mereka adalah kelompok yang beringas penuh dengan kemarahan. Mungkin lho ya.

Pesan terpenting saya dari diskusi ngalor-ngidul ini:

Ada momen terpenting dalam hidupmu yang harus kau cermati. Momen itu adalah momen ketika kau dimarahi orang atau kau melihat orang marah. Saat berada di momen ini, bersyukurlah, karena dalam momen inilah kau bisa mencoba menguji KM kamu, sudah seberapa tinggi KM kamu?

Posted on February 24, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: