Larangan berputus asa

Benarkah berputus asa dilarang?

Berputus asa adalah sudah tidak mempunyai pengharapan lagi. Orang yang berputus asa hidupnya asal hidup. Dia hidup asal-asalan. Dia hidup ikut arus. Arus ke Utara, dia ke Utara. Arus ke Selatan, dia ke Selatan. Arus ke Timur, dia ke Timur, dan seterusnya.

Gairah hidupnya hilang. Meskipun hilang, dia sering menyesal, meratapi nasib. Dia suka berandai-andai. Kalau dulu saya begini tentu saya tidak jadi begini sekarang.

Jadinya serba jelek kan. Yang jelas, orang yang berputus asa, sudah tidak lagi mempunyai persangkaan baik kepada Tuhannya. Nah, lho. Kalau sudah begini, apa tidak parah? Rasa syukurnya sudah hilang. Nah, lho. Kalau sudah begini, apa tidak tinggal menunggu azab yang sangat pedih dari Tuhannya. Sambil menunggu azab, sebenarnya kondisi kejiawaan (mungkin juga fisik) sedang merasakan azab berupa kehidupan yang sempit. Bagaimana tidak sempit, wong dia sudah tidak merasa lagi sebagai hambanya Tuhan. Dia sudah melepaskan diri dari lingkaran kasih dan sayang Tuhan. Dia sudah tidak sensitif lagi dengan karunia, taufik, hidayah, kasih, dan sayang dari Tuhan. Dia keluar dari garis edar. Meluncur, meluncur dan meluncur, menuju kehancuran.

Adakah orang yang tampaknya seperti sedang berputus asa, tapi sebenarnya dia berhubungan amat dekat dengan Tuhannya? misalnya kalangan jabbariyyin?

Posted on February 19, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: