Tadi Terhapus: Dari Mana, Ke Mana, Untuk Apa?

Pertanyaan abadi, dulu kamu pernah mendengar para penceramah berpidato, bahwa orang ketika sedang tidak sibuk suatu saat dia akan berpikir. Berpikir sejenak mempertanyakan dirinya sendiri. Siapa aku? Mengapa aku ada? Dulu aku sebelum ada, dari mana? Terus nanti aku mau ke mana? Terus apa-apaan ini, aku sebenarnya berfungsi sebagai apa? Untuk apa aku ada di sini?

Itu dulu, kata penceramah. Apakah sekarang masih berlaku? Haruskah kita bertanya seperti itu? Inginkah kamu menjalani hidup ini dengan hampa? dengan sia-sia? apakah kamu diciptakan dengan sia-sia? ataukah kamu tidak diciptakan? Mustahil kamu tidak diciptakan, nyatanya kamu ada. Dulu tidak ada, lalu kamu ada. Kamu terlahir dari ibu tertentu dan bapak tertentu. Kamu terlahir dari kompetisi berjuta-juta sel. Lalu tiba-tiba kamu sekarang sudah bisa membaca tulisan ini.

Lanjut penceramah waktu itu, kamu ada adalah atas kehendak penciptaan Allah. Kamu dari kehendak Allah. Kamu nanti kembali menghadap Allah. Di sini kamu bertugas memenuhi kehendak Allah. Kamu adalah pelayan Allah. Kamu melayani Allah di dunia ini.

Tapi di sisi lain, kamu membawa ego. Khotib sering bilang ego adalah hawa nafsu. Di satu sisi kamu harus mengikuti Allah, di sisi lain kamu terdorong oleh Ego untuk senantiasa menentang kehendak Allah.

Lha, Ego sendiri itu dari mana? Ya secara hakekat Ego sendiri ya dari Allah. Semua ini dari Allah.

Pernah dengar enggak, ada penceramah juga bilang kalau selama kita hidup di dunia ini, detik demi detik, setiap saat, setiap tarikan dan hembusan napas, setiap detak jantung kita, kita sedang berperang melawan Ego, melawan hawa nafsu kita. Dikatakan perang ini adalah perang terbesar, besarnya jauh melebihi perang fisik melawan orang kafir harbi. Mengapa perang fisik lebih kecil daripada perang melawan Ego? Ya iya lah ya. Wong perang fisik itu sendiri bisa terlaksana kalau kita berhasil menang dalam berperang melawan ego terlebih dahulu. Coba bayangkan, misalkan tiba suatu masa ada panggilan perang fisik. Apa yang terjadi dengan egomu. Tergantung sejauh mana kamu berhasil menaklukkan egomu, sekecil itu pula hambatan untuk berperang fisik yang akan menahanmu.

Sunatullah, ada dua dorongan yang saling mutually exclusive. Pertama dorongan Tuhan membisikkan kepada kehendak Tuhan. Dorongan ini misalnya dorongan untuk rajin, berbuat baik kepada orang tua, disiplin, istiqomah, menjaga sholat, menjaga sunnah-sunnah, …, …, dsb., dsb.

Ke dua dorongan ego menyuruh ke yang sebaliknya. Dorongan ini misalnya dorongan untuk bermalas-malasan, plintat-plintut, korupsi, cinta dunia, takut mati, pungli, korupsi, manipulasi, takut mati, suka dunia, suka syahwat, main perempuan, pikiran kotor, …, .., dsb., dsb.

Nah lho.

Mutually exclusive, apa itu? Itu adalah ketika kamu sudah berada dalam satu kondisi, pilihan, tindakan, kamu pada saat itu juga tidak berada di kondisi lain. Misalnya kalau kamu sudah berhasil rajin, pada saat itu juga kamu sedang tercegah dari bermalas-malasan. Ketika kamu sedang bersyukur, pada saat itu juga kamu tercegah dari kufur.

Nah Lho. Kalau ditulis, konsep hidup jadi sederhana ya. Analisis kehidupan juga menjadi sederhana. Tidak usah pakai teori sosial yang muluk-muluk, apalagi yang mbulet-mbulet, kita akan bisa menjalani hidup ini dengan ringan, sederhana, dan yang penting to the point.

Hayo mau bilang apa sekarang?

Posted on February 17, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: