Latihan Luar Dalam, Mana Yang Harus Diperhatikan Dulu: Luaran ataukah Daleman?

Tampak luar itulah yang biasa dinilai oleh orang sekitar, termasuk oleh kawan, rekan kuliah, teman sekantor, anak, istri, dan orang-orang yang ketemu kita. Tampak luar bisa memberi kesan. Malahan ada yang merumuskan efek halo (hallo effect), yakni kesan pertama ketika orang pertama kali ketemu kita selama sekian detik atau menit pertama. Tampak luar penting bagi orang di luar kita. Orang luar untuk seterusnya akan memperlakukan kita sebagian besar berdasarkan apa-apa yang baik dengan sengaja atau tidak sengaja tertampakkan kepada mereka.

Tapi sedemikian pentingkah tampak luar bagi kita sendiri? bagi saya sendiri? Kalau saya jawab tidak penting, jawaban ini tidak bisa dinilai benar atau salah. Yang penting adalah alasan saya, mengapa saya mengatakan tampak luar tidak terlalu penting. Tampak luar ibarat gunung es. Kalau kita naik perahu dan di depan kita terlihat ada gunung es, berapa persen yang kita lihat? Tidak banyak. Sebagian besar es justru berada di bawah permukaan air. Inilah tampak dalam yang tidak tampak oleh kita penumpang perahu, tapi benar dan nyata adanya.

Tampak luar hanyalah cerminan dari apa-apa yang di dalam. Tapi tidak semuanya tercermin. Yang di dalam sungguh kompleks, ampuh, dan berpengaruh. Sering kita membaca, menyaksikan berita ada orang terkecoh hanya dari tampak luar yang meyakinkan dan positif. Tapi belakangan yang bersangkutan tidak mendapatkan keuntungan dari hubungannya dengan orang itu. Apa yang terjadi dengan orang yang berhasil menampakkan kesan positif sampai berhasil mempecundangi orang-orang di sekelilingnya? Saya hanya ingin mengatakan, yang bagus di luar, belum tentu bagus di dalam. Mungkin bagus di dalam, mungkin juga tidak bagus di dalam, seperti contoh tadi. Bagus luar belum menjamin bagus dalam.

Sebaliknya bagaimana? Daleman bagus. Kalau di dalam bagus, apakah yang luar pasti bagus? Hampir bisa dipastikan, kalau daleman bagus, tampak luar akan bagus. Kecuali kalau orang itu sedang melatih orang. Pun dalam keadaan ini, tujuan awal dia adalah bagus. Kalau ada kepahitan yang dialami oleh yang dilatih, itu bukanlah kepahitan yang sebenarnya. Dia sedang memberi treatment kepada yang dilatih.

Mana yang lebih penting, luar atau dalam? Saya jawab, prioritas adalah dalam. Kalau dalamnya beres, insya Allah, yang luar-luar mengikuti.

Sekarang bagaimana kalau tampak luar tidak beres? Apakah kita bisa menyimpulkan kalau yang bersangkutan juga mengalami kerusakan organ dalam? Saya jawab, pada umumnya, ya. Ambil saja contoh dari pengalamanmu sendiri. Ingat-ingatlah satu kasus, kapan Anda pernah mengalami ketidakberesan luar? Ingat-ingatlah di saat itu, apa yang terjadi dengan daleman Anda? Saya yakin, daleman Anda juga sedang tidak beres.

Jadi mana yang harus diajari, dilatih, dibimbing, dibersihkan, dicek ulang, diperbaiki, diservis, dipulihkan, di-apalah-namanya-kan terlebih dahulu? dibereskan terlebih dahulu? Saya jawab, daleman! Jadi ingat, Kanjeng Nabi pernah bersabda, kurang lebih begini. Di dalam diri orang itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu beres, yang lain-lain dah pasti akan beres. Tapi kalau daging itu kacau balau, dijamin deh yang lain-lain juga kacau balau. Apa itu? Itulah hati. Daleman, gunung es, yang tidak tampak dari luar, tapi ada dan menentukan apakah orang itu waras atau lagi butuh perawatan.

Bagaimana harus merawat daleman? Kemana harus menyerviskan daleman? Silakan bertanya kepada dirimu masing-masing. Hayo bagaimana dan ke mana?

Posted on February 14, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: