Know thyself

Fifty years measured from your birth date is enough for you to maintain and subscribe to your physical perceptions.

But have you known yourself?

If not, now is the time to start to know yourself.

It is urgent to know yourself.

Perception not mediated by your five senses, but mediated by your heart.

Pearls, jewelry, gold and other invaluable stuffs are there waiting for you to dig and explore.

Happy voyaging!

Advertisements

Ini postingan uji

Di nurmayafifani WordPress

ABCDE Go-jek Jakarta kekurangan dan kelemahannya, dan kritik sistem go-jek pada umumnya

Pernah Selasa 4 Juni 2017 sore hari jam lima lebih aku memesan GoJek dari depan Gedung Artha Graha (kuningan ya?) Pesan mulai jam lima sore aku ulang berulang-ulang sampai hampir jam enam sore, tidak ada satu pun kru Go-Jek yang merespons!

Ini adalah kelemahan fatal dari sistem Gojek saat ini. Sistem Go-Jek idealnya memberikan response time untuk setiap kali pemesanan jangan sampai lebih dari 5 atau sepuluh menit. Kalau response time sampai mendekati satu jam, jelas ini sangat mengecewakan konsumen!

Saya paham kenapa ini terjadi. Ini adalah gara-gara setiap kru Go-Jek tidak ingin untung sedikit. Mereka mau untung sendiri sehingga kalau ada order pada peak time yang memerlukan effort lebih seperti order saya adalah order yang diperkirakan memerlukan effort lebih dari kru Go-Jek karena diperkirakan akan melewati jalur padat yang berpeluang macet. Ini secara individu kru GoJek menguntungkan mereka, namun secara sistem GoJek keseluruhan akan dihasilkan citra buruk yang mencoreng GoJek. Response time sampai hampir mendekati satu jam! adalah sangat tidak bisa diterima untuk sistem mutakhir yang harus responsif. Sistem semacam ini dapat kita kategorikan sebagai sistem yang gagal. Jadi kesimpulannya kalau ini dibiarkan akan menjadi bumerang bagi sistem Go-Jek, bagi reputasi sistem GoJek secara keseluruhan.

Lalu bagaimana solusinya?

Nah, saya mengkritik, dan saya harus memberi solusi alternatif pemecahan. Ada banyak alternatif. Salah satunya adalah ketika ada order yang tidak direspons untuk jangka waktu yang bisa ditolerir seperti yang saya alami di atas, sistem bisa membuat aturan untuk meng-assign secara acak pada salah satu dari beberapa kru Go-Jek terdekat dengan calon penumpang itu. Dan kru yang di-assign oleh sistem tidak boleh menolak, dan kalau menolak, sistem akan memberi penilaian reputasi kru dengan nilai kurang (pengurangan nilai reputasi kepada kru tersebut.) Bisa juga dengan reward, kru yang bersedia menerima perintah dari sistem diberi nilai tambah atau bisa diberi reward point apalagi kalau sistem bisa mendeteksi ternyata order yang dijalani oleh kru memang sulit (dengan mendeteksi waktu tempuh yang melebihi waktu wajar).

Jadi, kejadian fatal sistem go-jek, atau fatal error ini, masih bisa diselamatkan secara sistem. Oleh karena itu, mudah-mudahan tulisan ini masuk ke pihak Go-Jek dan segera pihak GoJek untuk menindaklanjuti kelemahan fatal atua kekurangan yang merugikan konsumen ini. Sekali lagi, berpikirnya harus secara sistem, bukan per individu kru gojek tersebut.

Kalau ini masuknya ke mana ya 212356

Kalau ini masuknya ke mana ya 212356

Kejadian kemarin ketemu profesor yang pas dan berkah

Kejadian kemarin ketemu profesor yang pas dan berkah. Saya ketemu profesor waktu saya sore-sore mau keluar ke IOA untuk menanyakan prosedur administrasi kepulangan kembali. Kebetulan dokumen nilai akhir ujian oral terakhir saya bawa di tas yang saya cangklong. Beliau saya sapa, terus saya utarakan problem saya bahwa terjadi salah hitung rata-rata hasil ujian lisan. Lima penguji memberi nilai 91, tapi ada satu penguji yang ketlingsut nilainya yang ternyata setelah saya hubungi memberi nilai 95. Sementara itu kertas laporan hasil akhir sudah ditulis rata-ratanya 91. Sehingga rata-rata yang perlu direvisi kalau nilai 95 harus dimasukkan. Rata-rata yang baru harusnya adalah 91 + 4/6 = 91,67.

Begitulah sore itu di perempatan jalan setapak belakang perpustakaan NCU yang baru Beliau merevisi nilai akhir rata-rata. Nilai 91 lebih itu aselinya bagi saya terlalu tinggi dari realita tesis yang sudah saya tulis dan diuji. Saya menganggap nilai itu sebagai kepercayaan para penguji kepada saya untuk bisa berkembang ketika saya sudah lulus dan menapaki kembali dunia nyata. Lha wong dunia nyata esensinya kay ya tetap seperti sekolahan yang akan mengantarkan kita untuk terus menyerap sinar-sinar terang yang berkerlap-kerlip gemerlapan di sekitar kita.

Selesai Beliau tanda tangani saya langsung meluncur ke Department OFFICE untuk menyerahkan nilai akhir rata-rata itu. Alhamdulillah, ini benar-benar sesuai janji saya ketika akhir bulan selesai ujian aku menyerahkan nilai akhir itu dan petugas di sana menghitung ulang lalu ketahuan rata-ratanya keliru, lalu petugas minta untuk membetulkannya.

Selesai dari department office, aku langsung meluncur ke IOA menanyakan prosedur selesai studi. Tapi tadi Ema masih kesulitan sehingga Beliau meminta aku untuk ke sana kembali pada hari Senin.

Pulang dari OIA aku melihat lagi Prof ku berjalan kaki kembali pulang ke rumah dinas Beliau. Aku kejar lagi dan aku temui di depan rumah. Aku melapor Beliau untuk membawakan cendera mata dan akan kembali lagi ke situ sepuluh menit kemudian. Dan akhirnya aku berhasil menyerahkan cendera mata kepada Beliau. Selalu, BEliau berpesan untuk tidak melepas hubunganku dengan Beliau ketika aku nanti sudah kembali lagi di Indonesia.

[terasa benar waktu nulis cerita ini aku merasa wagu; flow ku kurang bisa mengalir dengan natural; sepertinya beda deh dengan waktu dulu aku masih gemar menulisi blog ini … semoga bisa istiqomah kembali untuk menulis catatan harian di sini, sehingga aku bisa mengalir lagi dengan alami dan lancar.]

Alhamdulillah, saya baru ingat kemarin ini, kalau saya menge-blog di sini

Alhamdulillah, saya baru ingat kemarin ini, kalau saya menge-blog di sini, dan tidak tanggung-tanggung. Ternyata koleksi tulisanku sudah sangat banyak!

Baru saja sudah saya baca balik/ulang, dan baru sampai di sini https://nurmayafifani.wordpress.com/2010/05/31/batas-capek-pedih-sedih-dsb-sampai-di-manakah/, belum selesai di permulaan blog saya.

Ternyata blog ini adalah koleksi lama. Telah terputus lama, dan saya tidak menuangkan ide-ide, perasaan-perasaan saya ke sini secara rutin. Padahal kerutinan itu perlu. Regularity itu perlu, meski sedikit-sedikit. Mudah-mudahan kemampuan menulis saya tidak terkikis gara-gara saya lalai dalam mempraktikkan regularity.

Anehnya, dari membaca ulang, saya heran dengan kemampuan saya dalam menulis dan mengungkapkan problem-problem saya dalam bentuk tulisan. Saya menyangsikan, saya kah yang menulis semua itu? Iya, saya.

 

 

 

Malam ini malam Jumat pertama tahun baru 2014, masih membaca Maulid

Setelah diingatkan Bib Nizar untuk baca maulid, malam jumat ini adalah malam jumat ketiga, apa keempat, apa kelima, apa ke berapa, saya tidak menghitungi, tapi mudah-mudahan akan senantiasa terus istiqomah untuk membaca maulit kanjeng rosul saw. Yang saya baca adalah maulid yang paling pendek, kata Bib Nizar, yakni maulid ini >mawlid-adh-dhiyaul-lami’-alhabibomar.com.pdf<.

Kitab PDF tersebut dapat diunduh di Internet.

Bagi sementara kalangan yang mengkonter baca maulid ya dipersilakan. Soalnya aku dulu di masa lalu, ketika aku masih keluar masuk kesana kemari aku juga sudah pernah ke mana-mana. Bahkan ketika aku dulu kos bertetangga mepet pas dengan Masjid, aku sempat berinteraksi dengan para muslim yang diinstali dengan berbagai memori dari A sampai Z. Ada yang dari Jamaah Tabligh, ada yang dari Hizbut Tahrir, ada yang dari Salafi, ada, ada, ada, sudah lah, komplet plet.

Dan resultante terakhir yang terjadi pada diriku sampai detik ini adalah, aku sedang mengistikomahkan untuk membaca Maulid.

Abah berani minum kopi?

“Abah berani minum kopi?” tanya spontan hani tadi pagi lewat Skype.

Kujawab iya, dia terus melanjutkan cerita bahwa dirinya pernah makan kopi, bukan minum kopi. Maksud dia, dia pernah makan kopi tanpa air. 

Habib Rizieq Shihab mengkuliti Ustadz Yazid Jawas

nurmayafifani, Lihat lah Youtube ini:

http://www.youtube.com/watch?v=hlCdzVo8Ueo (part 1)

http://www.youtube.com/watch?v=DZdjU2H6hpA (part 2)

Siklus berulang lagi

Setelah merasa dikatakan berhasil karena sudah publish satu conference paper yang bisa untuk ganti kualifikasi, dan satu lagi jurnal paper, sekarang kesunyian datang lagi. Sunyi karena seakan menggantung, meski masih ada aktivitas gresek-gresek baca ini dan baca itu. Namun, kalau saja ada target dan sasaran yang lebih pasti, tentu akan dikerahkan usaha untuk bisa lebih terpusat pada yang lebih pasti itu.

Berulanglah siklus itu kembali. Keadaan seperti sedang di bawah kembali, seperti jatuh dari ketinggian yang tadinya seolah-olah sudah merasa hampir sampai ke puncak tujuan, tapi tiba-tiba saja seakan ada angin puting beliung yang kencang menghampiri dan menyambar yang menghempaskan sehingga kolapslah tebing itu. Terlihat dari bawah, puncak itu masih ada meski kadang suka tertutupi kabut hitam.

Denyut nadi masih normal, mata masih terang, kepala masih bisa didinginkan kembali. Barangkali diperlukan hening sejenak kembali untuk menyusun kekuatan kembali untuk naik lagi meski harus tidak lewat jalan seperti sebelumnya. Barangkali ada jalan lain yang lebih cepat dan singkat aman untuk bisa mencapai ke puncak prestasi. Jalan itu belum diketahui. Tapi semoga dengan hening sejenak, akan bisa ditemukan jalan itu. Jalan yang bisa dengan cepat singkat dan efisien membawa penumpang ke puncak prestasi.

Duh Gusti paringana pitulungan supados saged dugi mrika.